Tawarkan Konsep Penataan Kampung Kumuh Di Jakarta, Mahasiswa ITB Juara 2 Nasional

Ilustrasi Kampung Kumuh/Net
Ilustrasi Kampung Kumuh/Net

Gelar juara dua disabet delapan mahasiswa Arsitektur dan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Kompetisi Penataan Kampung Kumuh Lingkup RW kategori mahasiswa yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Perencanaan DKI Jakarta.


Delapan mahasiswa yang tergabung dalam tim M.10 itu diantaranya Haykal Hielmi (Arsitektur, 2018), George Michael (Arsitektur, 2018), Dhiya Ilham T. (PWK, 2018), R. Putera Bagus W. (PWK, 2018), M. Alif Alwinutama (PWK, 2018), Frida Caturima (PWK, 2018), Fakhriah Qurratu A.H. (PWK, 2018), dan Frida Nathania (PWK, 2018)

Mendapatkan wilayah studi RW 009, Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Kota Jakarta Utara, tim ini menggagas solusi penataan kampung kumuh berupa pembangunan rumah susun bernama Rusun Reswara.

Membawa visi “Rumah Susun yang Sehat, Tangguh terhadap Bencana, dan Mandiri”, tim ini menghasilkan analisis sosial ekonomi, analisis sarana prasarana, usulan program sosial ekonomi, rencana tapak dan bangunan, serta ilustrasi suasana dalam bentuk masterplan, peta rencana, action plan, short paper, poster, 3D modelling, serta video final yang dikerjakan selama satu bulan.

Awalnya, Frida, perwakilan tim, mengikuti perlombaan ini karena ingin mencari kesibukan selain Kerja Praktik (KP) atau magang. Kompetisi ini selaras dengan mata kuliah yang sudah mereka pelajari pada tahun ketiga di jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota. Hadiah uang dan kesempatan magang di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bagi pemenang juga menjadi motivasi mengikuti perlombaan ini.

Frida memaparkan bahwa terdapat banyak hambatan selama perlombaan ini. Bahkan, hambatan terjadi saat proses pembentukan tim. Ketua tim, Dhiya Ilham, merasa bahwa tim ini memerlukan potensi anggota tim yang berbeda sehingga antaranggota dapat berkolaborasi.

Kolaborasi akhirnya muncul dengan komposisi tim yang beranggotakan enam mahasiswa PWK dan dua mahasiswa Arsitektur. Kolaborasi antara keilmuan PWK dengan keilmuan perancangan bangunan dalam arsitektur dilakukan agar tim ini dapat menghasilkan hasil yang optimal dan holistik.

"Poin utama adalah kolaborasi. Kolaborasi adalah kunci. Kalau kita cuma mengandalkan anak jurusan (PWK), (tim) akan kekurangan perspektif lain. Contoh, kita terlalu menitikberatkan di planonya, tapi di desain kurang,” ucap Putera, salah satu anggota tim ini.

Meski begitu, kolaborasi ini menimbukan hambatan lain, yaitu perbedaan kesibukan anggota tim yang berpengaruh pada sulitnya menentukan waktu berdiskusi. Masing-masing juga memiliki perbedaan cara pandang terhadap suatu hasil. Selain itu, kondisi Covid-19 juga menyulitkan proses survei dalam rangka pengambilan data exsisting di RW 009, Kel. Rawa Badak Selatan.

Kondisi kesehatan anggota juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim. Namun, berkat semangat, bekal keilmuan, dan solidaritas berbentuk sikap saling pengertian yang ada dalam tim ini, seluruh tantangan dan hambatan dapat dilalui dan membuahkan keberhasilan.

“Saling support berguna banget. Hanya sebatas ‘bagus’, ‘wah, kita udah jauh banget, nih’, ‘wah kita ngelakuin banyak, nih’, kata-kata apresiasi kecil sebenernya sangat berarti,” ujar Frida seperti dikutip dari laman ITB, Rabu (1/9).

Lomba ini menjadi ajang menantang dan membuktikan diri bagi tiap anggota. Mereka dihadapkan pada kondisi faktual yang membutuhkan pemikiran holistik dalam strategi penyelesaian masalah. Selain itu, proses perumusan dan pembuatan berbagai karya dalam penataan kampung kumuh diakui meningkatkan pengembangan kemampuan diri tiap anggota.

Penataan kampung kumuh tidak melulu terkait penataan aspek fisik berupa desain bangunan dan infrastuktur penunjangnya, tetapi juga memerlukan perencanaan dalam aspek nonfisik, yaitu manusia yang tinggal di RW 009, Kel. Rawa Badak Selatan, yang diimplementasikan dalam berbagai rencana program dalam Rusun Reswara.

“Lomba ini gak cuma soal penataan, tapi soal bagaimana kita berada di posisi orang yang tinggal di kampung kumuh. Kita menyadari kondisi masyarakat di sana, dan bisa berkontribusi secara sosial, mungkin, lewat output ini,” ucap Frida dalam memaknai lomba penataan kampung kumuh ini.