Tentang Karl Marx dan Das Kapital, Tanggapan Buat Tuan Jaya Suprana

Karl Marx/Net
Karl Marx/Net

TULISAN ini dimaksudkan untuk menanggapi tulisan budayawan Jaya Suprana, "Membedah Buku Das Kapital", di media ini, kemarin, 5/6/21.

Inti pembedahan Jaya Suprana (JS) atas Das Kapital itu adalah, pertama, Karl Marx merupakan penulis yang membosankan dan "Das Kapital" merupakan sebuah buku yang "overrated" atau dianggap terlalu berlebih-lebihan.

Kedua, buku Das Kapital menjadi buku paling berpengaruh buruk pada abad 20 bersaing dengan buku Hitler, "Main Kamp". Ketiga, "Das Kapital" melahirkan monster, yakni kapitalisme. Lalu cara analisa politik ekonomi dan sosiologisnya didayagunakan sebagai dasar landasan ideologi.

Keempat, ideologi komunis tereduksi hanya untuk kekuasaan semata, sehingga berakibat buruk bagi bangsa dan rakyat. Dan kelima, puncak kekeliruan ideologi komunisme yang berakar pada tafsir atas "Das Kapital" terletak pada pemberhalaan ideologi sebagai tujuan. Padahal semestinya kepentingan manusia harus lebih diutamakan daripada kepentingan ideologi itu sendiri.

Menarik membaca artikel JS, dan kita teringat pada Hari Pancasila 1 Juni yang  lalu, di mana Presiden Joko Widodo memberikan peringatan akan bahayanya ideologi trans-nasional.

Pancasila 1 Juni tentu terkait Bung Karno. Dan Bung Karno adalah pengagum sekaligus kritikus Karl Marx, seperti terdapat dalam jejak tulisannya yang memuat kenangan sebagai berikut, "Nasionalisme di dunia Timur itu lantas 'berkawinlah' dengan Marxisme itu menjadi satu nasionalisme baru, satu ilmu baru, satu ikhtiar baru, satu senjata perjuangan yang baru, satu sikap hidup yang baru. Nasionalisme baru inilah yang kini hidup di kalangan rakyat Marhaen Indonesia. Karena ini Marhaen pun wajib berseru bahagialah (Karl Marx) yang wafat 50 tahun berselang".

Kemana arah tulisan JS ini? Apakah masih relevan melihat ancaman ideologi transnasional berbasis komunisme? Apakah terkait dengan isu kenaikan pajak (permusuhan?) yang tinggi terhadap orang-orang kaya di Amerika setelah Biden berkuasa? Atau karena pajak terhadap orang kaya juga akan dinaikkan di Indonesia?

Ataukah kritik JS atas "Das Kapital" untuk mengkritisi semua ideologi, kecuali kemanusiaan?

Soal buku "Das Kapital", JS tentu paham bahwa itu buku filsafat dengan observasi Karl Marx selama 30 tahun atas kapitalisme di Barat. Buku filsafat tentu bukan komik Sinchan atau Ko Ping Ho yang gampang dan enak dibaca.

"Das Kapital" rumit dibaca sejak bab awal hingga akhir merumuskan konsep "use value, useful value, exchange value, commodity, commodity fetishism, labor power, labor as commodity, money, surplus value, mode of production, social relations, alienation, history of inequality," dan lainnya.

Terlalu banyak konsep atau teori.

Namun tentu saja tidak semua sepakat dengan JS bahwa buku itu terlalu berlebih-lebihan maupun berpengaruh buruk seperti bukunya Hitler. Pada masanya "Das Kapital" sangat tepat menganalisa masyarakat kapitalis dan kesenjangan sosial, dari sisi sejarahnya maupun kehancurannya.

Buku ini bukanlah ajaran kebencian dan pemusnah etnis, seperti bukunya Hitler "Main Kamp" itu. Persamaan Marx dan Hitler adalah kebencian mereka terhadap budaya hidup Yahudi.

Budaya hidup Yahudi di mata Marx, meskipun dia juga punya darah Yahudi, adalah, kebudayaan menuhankan uang. Yahudi adalah sumber awal masyarakat kapitalis itu. Sedangkan Hitler sejak awal membenci Yahudi lebih karena adanya dominasi (ekonomi) Yahudi di Jerman saat itu.

JS mengatakan bahwa "Das Kapital" melahirkan kapitalisme. Padahal kapitalisme yang dipersoalkan sudah mempunyai jejak pada abad ke 14 di Florence, Italia. Berbagai pemikir sebelum Marx, seperti David Ricardo, juga membahas kapitalisme. Hanya, Marx pembenci kapitalisme, karena Karl Marx memposisikan dirinya pada pembelaan kaum buruh.

Menurut JS ideologi komunisme tereduksi hanya pada kekuasaan semata. Seandainya kita merujuk saja pada sejarah Indonesia dari Majapahit sampai saat ini, yang di antaranya ada unsur pengaruh komunisme, apakah ada kekuasaan yang memikirkan nasib rakyat jelata?

Terkadang antara buku dan cita-cita dengan kerakusan dalam kekuasaan, sekalipun atas nama ideologi, sering sekali tidak berkaitan. Saat ini ketika kita mendengungkan Pancasila, malah pemerintah melalui Mahfud MD, meyakini bahwa korupsi saat ini lebih buruk dari masa sebelumnya. Meskipun menurutnya ada limbah korupsi masa lalu.

Terakhir JS mengatakan puncak kekeliruan ideologi Komunisme karena kesalahan tafsir atas "Das Kapital". Ideologi telah dijadikan berhala dan tujuan, bukan sebagai alat perjuangan.

Sebenarnya pada masa tertentu, komunisme telah berjasa di Eropa dan memaksa kapitalisme yang angkuh berkompromi dengan komunisme, menjadi Welfare Society.

Komunisme juga mengubah struktur ketidak adilan menjadi lebih adil di sana. Beberapa negara dan daerah seperti Paris dan London, pernah mengalami penurunan koefisien gini cukup besar, pada era 1950an sampai 1980 an.

Apalagi di negara-negara Skandinavia. Negara memungut pajak yang tinggi dan progresif terhadap orang-orang kaya dan menanggung subsidi pangan, kesehatan serta pendidikan orang-orang miskin.

Apakah komunisme mungkin bangkit lagi? Apakah buku "Das Kapital" masih relevan? Hal ini merupakan pertanyaan besar.

Jejak ajaran komunisme itu masih banyak di belahan dunia.

Tahun lalu Paul Krugman, dalam mereview buku Thomas Piketty "Capital and Ideology", dalam "Thomas Piketty Turns Marx on His Head", menunjukkan adanya usulan Piketty tentang kembalinya kaum sosialis pada gerakan "working class", jangan terlalu elitis.

Namun, Krugman menunjukkan Working Class Amerika lebih pro pada Kapitalis ketika dihadapkan pada isu kulit putih versus sosialisme (keadilan sosial). Begitupun dari pikiran Piketty yang ada Marx di dalam kepalanya, bisa saja ideologi ini bangkit kembali.

Sebagai artikel yang berkaitan dengan nama besar, Karl Marx dan bukunya "Das Kapital", tentunya pembedahan yang dilakukan JS perlu mendapat perhatian serius. Mungkin saja JS mengetahui jangkauan tulisannya lebih daripada kebanyakan orang.

Penulis adalah wartawan senior